Dosen PGSD UNP Luncurkan Tiga Buku Pendidikan pada IMFL-4, Soroti Pentingnya Literasi dan Berpikir Kritis
Kota | Sabtu, 13 Juni 2026 15:44:00 WIB
Bukittinggi – Momentum The 4th International Minang Festival Literacy (IMFL-4) yang dirangkaikan dengan Seminar Internasional Guru bertema "Peluang dan Tantangan Guru di Era AI" menjadi ajang peluncuran tiga buku referensi pendidikan karya dosen Departemen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Nur Azmi Alwi. Peluncuran berlangsung di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, pada akhir pekan lalu, Sabtu (6/6/2026).
Tiga buku yang diluncurkan berjudul Literasi di Sekolah Dasar, Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, dan Keterampilan Berbahasa di Sekolah Dasar. Ketiga karya tersebut secara simbolis diserahkan kepada Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Hafidz Muksin.
Dalam kesempatan itu, Dr. Nur Azmi Alwi menjelaskan bahwa penerbitan ketiga buku tersebut merupakan bentuk kontribusi akademik dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan dasar di Indonesia, khususnya terkait kemampuan literasi dan numerasi peserta didik yang masih perlu ditingkatkan.
Menurutnya, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Sekolah Dasar Tahun 2026 menunjukkan masih adanya kesenjangan kemampuan siswa, terutama dalam aspek penalaran dan pemecahan masalah. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius yang memerlukan pembenahan sejak jenjang pendidikan dasar.
Sebagai akademisi yang menekuni bidang pengajaran sastra anak, Nur Azmi menegaskan bahwa kegiatan membaca tidak seharusnya hanya berorientasi pada kemampuan menghafal, tetapi harus mampu membangun daya kritis, kreativitas, dan kemampuan berpikir logis peserta didik.
"Anak-anak kita secara umum memang terbiasa membaca atau menjawab pertanyaan yang sifatnya hafalan. Namun, mereka sangat lemah dan gagap ketika dihadapkan pada soal logika, pemecahan masalah (problem solving), dan penalaran kritis," ujarnya.
Ia menilai guru perlu mengubah pendekatan pembelajaran di kelas dengan lebih banyak menghadirkan aktivitas yang mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS), sehingga siswa terbiasa menganalisis, mengevaluasi, dan memecahkan berbagai persoalan secara mandiri.
Nur Azmi juga mengingatkan bahwa rendahnya kemampuan numerasi di tingkat sekolah dasar dapat berdampak terhadap proses belajar siswa pada jenjang pendidikan berikutnya. Karena itu, penguatan kemampuan berpikir logis dan bernalar harus dimulai sejak usia dini melalui pembelajaran yang berkualitas.
"Anak-anak di jenjang SD perlu dibiasakan dengan soal-soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) agar kemampuan bernalar mereka tumbuh sejak dini melalui bacaan dan stimulasi yang tepat," katanya.
Melalui tiga buku yang diluncurkan tersebut, ia berharap para guru memiliki referensi yang dapat mendukung pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia, literasi, dan keterampilan berbahasa yang lebih inovatif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21.
Nur Azmi yang hadir didampingi suaminya, Dr. Irwandi, yang juga bertindak sebagai moderator seminar internasional tersebut, berharap hasil evaluasi pendidikan seperti Tes Kemampuan Akademik dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan perbaikan sistem pembelajaran secara berkelanjutan.
Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan dasar harus menjadi perhatian bersama agar peserta didik Indonesia memiliki kemampuan literasi, numerasi, dan berpikir kritis yang mampu menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
(Sumber: WRk)
Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa korupsi dan lain-lainnya/rilis atau ingin pasang Iklan dan berbagi foto?
Silakan SMS/WatsApp ke:
0852-6599-9456
Via E-mail:
[email protected] / [email protected]
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda) |
Komentar Anda :