Padang – Sebanyak 120 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Padang (UNP), mengikuti kuliah lapangan Filologi Islam di Pusat Turats Ulama Minangkabau, Surau Istiqamah, Kabupaten Limapuluh Kota, pada Sabtu-Minggu, 16–17 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk mengkaji manuskrip Islam klasik sebagai bagian dari praktik mata kuliah Filologi Islam.
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis UNP, Senin (1/6/2026), kuliah lapangan tersebut berfokus pada kajian kodikologi, yaitu ilmu yang mempelajari aspek fisik manuskrip kuno. Mahasiswa diberi kesempatan meneliti secara langsung berbagai naskah Islam klasik yang tersimpan di Pusat Turats Ulama Minangkabau.
Kegiatan dipandu oleh dosen pengampu mata kuliah Filologi Islam, Muhammad Yusuf, S.Hum., M.A., dan Dr. Halomoan, M.Pd., bekerja sama dengan filolog Minangkabau, Buya Apria Putra, M.Hum. Pada pelaksanaannya, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk meneliti manuskrip yang telah ditentukan. Sebanyak 55 mahasiswa mengikuti kegiatan pada hari pertama, sementara 65 mahasiswa lainnya mengikuti kegiatan pada hari kedua.
Setiap kelompok melakukan analisis terhadap kondisi fisik manuskrip, jenis tulisan, struktur teks, hingga sejarah penyalinan naskah. Melalui praktik tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori filologi, tetapi juga memahami secara langsung kekayaan tradisi intelektual Islam di Minangkabau serta pentingnya pelestarian manuskrip sebagai warisan ilmu pengetahuan.
Dalam pengantar kuliah lapangan, Buya Apria Putra menegaskan bahwa filologi memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan karena seluruh warisan keilmuan diwariskan melalui tulisan.
"Filologi itu bagian terpenting dari ilmu pengetahuan sebab pengetahuan diwariskan melalui tulisan. Maka mengetahui tulisan itu merupakan sesuatu yang penting bagi seorang pelajar," ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa teks keislaman terdiri atas dua jenis, yakni matbu'ah atau teks yang telah dicetak dan makhtutah, yaitu manuskrip tulisan tangan yang dipelajari melalui ilmu filologi atau Tahqiq al-Nusus.
Buya Apria Putra dikenal sebagai filolog yang aktif mengumpulkan manuskrip kuno dari berbagai surau di Sumatera Barat. Hingga kini, ia telah menghimpun lebih dari 350 manuskrip yang mencakup tulisan tangan, cap, ilustrasi, serta berbagai dokumen keagamaan yang kini tersimpan di Perpustakaan Manuskrip Kurupkhanah Al-Asyirah An-Naqsyabandiyah.
Selain itu, filolog kelahiran Mungo, Limapuluh Kota tersebut juga dikenal melalui blog "Surau Tuo" yang secara konsisten mendokumentasikan biografi para ulama Minangkabau sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah intelektual Islam di daerah tersebut.
Sebagai luaran kegiatan, mahasiswa menyusun katalog manuskrip yang nantinya akan disimpan di Laboratorium Pengkajian Islam dan Inovasi PAI Departemen Ilmu Agama Islam UNP sebagai bagian dari dokumentasi akademik dan bahan pembelajaran.
Salah seorang mahasiswa, Ivan Sentosa, menilai penelitian manuskrip kuno memerlukan waktu yang lebih panjang agar hasil kajian dapat dilakukan secara lebih mendalam.
"Meneliti teks kuno tidak cukup satu hari. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengetahui karya-karya ulama terdahulu," katanya.
Mahasiswa lainnya, Farel, mengaku memperoleh pengalaman berharga melalui kuliah lapangan tersebut. Menurutnya, praktik langsung memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses identifikasi, pembacaan, hingga analisis manuskrip Islam.
"Melalui praktik ini kami belajar tentang proses identifikasi, pembacaan, hingga analisis naskah kuno. Selain menambah ilmu, kegiatan ini juga melatih ketelitian, kesabaran, dan kerja sama antar mahasiswa," ujarnya.
Ia juga mengaku terkesan dapat belajar langsung bersama Buya Apria Putra yang selama ini dikenal aktif melestarikan manuskrip Islam di Minangkabau. Sambutan hangat dari pengelola Pusat Turats Ulama Minangkabau turut memberikan pengalaman yang berkesan bagi seluruh peserta.
Selain meneliti manuskrip, mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai sejarah surau sebagai pusat pendidikan Islam di Minangkabau pada masa lalu. Surau tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran agama, penyalinan naskah, serta ruang berkembangnya tradisi intelektual masyarakat.
Melalui kuliah lapangan ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga dan melestarikan manuskrip kuno sebagai sumber sejarah, khazanah keilmuan Islam, serta warisan budaya bangsa yang memiliki nilai akademik tinggi.
(Sumber: Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis UNP)
Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa korupsi dan lain-lainnya/rilis atau ingin pasang Iklan dan berbagi foto?
Silakan SMS/WatsApp ke:
0852-6599-9456
Via E-mail:
[email protected] / [email protected]
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda) |
Komentar Anda :