Sabtu, 28 Januari 2023
Follow:  
www.siagaonline.com
 
Pemotongan Gaji Seenak Jidat di Liga 1
Kamis, 09-04-2020 - 07:43:49 WIB

TERKAIT:
   
 

SiagaOnline.com, Pemotongan gaji pesepakbola lumrah dilakukan di tengah pandemi virus corona. Tapi, yang berlaku di Liga 1 dan Liga 2 seenak jidat sendiri.

Sebab, keputusan terkesan diambil sepihak. Besaran jumlah potongan juga kelewat besar dan mencekik leher. Gaji seluruh pemain dan ofisial dipangkas hingga 75 persen.

PSSI lewat surat keputusan bernomor SKEP/48/III/2020, menyatakan klub wajib membayar maksimal 25 persen dari nominal kontrak untuk periode Maret hingga Juni 2020.

Keputusan ini diambil setelah operator kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB) menerima usulan klub-klub dengan dalih kondisi force majeure karena wabah Covid-19.

Artinya, tiap pemain hanya berhak mengantongi 25 persen dari gaji semestinya.

Ambil contoh, salah satu pemain top Indonesia misalnya mendapat kontrak Rp1 miliar selama semusim. Dengan metode pembayaran di Indonesia, si pemain biasanya akan mendapat uang muka sebesar 25 persen atau 250 juta saat resmi menandatangani kontrak.

Sementara 750 juta sisanya dibayar per bulan selama semusim atau sekitar 10 bulan. Pemain ini harusnya mendapat 75 juta per bulan tapi pemotongan gaji membuatnya hanya mendapatkan Rp18,7 juta.

Pemain menengah yang mendapat kontrak Rp500 juta semusim akan mendapat Rp9,3 juta. Sementara pemain muda dengan kontrak 200 juta hanya akan mengantongi Rp4,3 juta di masa penangguhan kompetisi.

Pendapatan pemain Liga 2 yang nilai kontraknya bisa saja di bawah Rp200 juta bisa lebih rendah lagi. Itupun tak menjamin gaji mereka diberikan mengingat ada sebagian klub Liga 2 yang masih menunggak hak pemain.

Pemangkasan gaji jadi ide lumrah di tengah krisis finansial yang dialami klub-klub Indonesia. Terlebih hampir semua klub di Tanah Air tak memiliki aset.

Mereka hanya mengandalkan sponsor yang tak seberapa dan berharap dari hak siar operator kompetisi. Suporter terkadang dijadikan sapi perah lewat harga tiket cukup mahal. Meski demikian, tak jarang pemilik klub terpaksa merogoh kocek pribadi atau berutang.

Namun, pemangkasan gaji 75 persen tak lantas bisa dimaklumi begitu saja. Pemotongan melebihi setengah dari pendapatan adalah keputusan sadis yang amat merugikan pemain, pelatih, dan staf ofisial.

Segelintir pemain mengaku pasrah. Sementara sebagian lainnya tak berani bersuara dan mengandalkan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) sebagai corong.

Beruntung APPI bersikap tegas. Dalam rilisnya, asosiasi pemain yang dipimpin Firman Utina tersebut memprotes keputusan yang terkesan seenak jidat.

Dalam rilisnya, APPI menegaskan, keputusan pembayaran gaji sebesar 25% sejak Maret-Juni merupakan hal yang seharusnya disepakati kedua belah pihak dan tidak bisa diputuskan sepihak.

"Kami meminta adanya pertemuan dan pembicaraan yang melibatkan semua stakeholder tanpa terkecuali dengan dasar saling respect dan fair untuk mencapai solusi yang bisa diterima oleh semua pihak," bunyi pernyataan APPI pada 28 Maret 2020.

APPI juga mendesak klub untuk melunasi uang muka kontrak pemain. Ternyata tidak semua klub menunaikan kewajibannya kepada pemain.

Ironisnya, permintaan APPI yang menjadi corong seluruh pemain Indonesia tak digubris. Hingga saat ini tak ada respons dari PSSI, LIB, maupun klub-klub peserta

Rencana pemangkasan gaji pemain juga sedang marak terjadi di liga-liga Eropa. Liga Inggris dan Liga Italia misalnya. Kedua kompetisi ini mengusulkan rencana pemotongan 30 persen gaji.

Besaran potongan 30 persen sebenarnya cukup masuk akal. Namun, asosiasi pemain Liga Inggris dan Liga Italia menolak. Mereka menuntut klub melakukan negosiasi ulang terkait kontrak dan tidak menyamaratakan pemotongan.

Alih-alih membantu mengatasi finansial klub, pemotongan gaji justru dianggap mengebiri hak-hak pemain. Sebab, mereka dijadikan korban atas krisis yang menimpa klub.

Ikon sepak bola Inggris, Wayne Rooney, melayangkan kritik pada pemerintah dan Premier League atas rencana pemotongan gaji para pemain selama pandemi virus corona.

Mantan pemain Manchester United itu menilai, kebijakan pemotongan gaji sebesar 30 persen justru menempatkan pemain dalam situasi paling dirugikan.

Secara pribadi, Rooney rela berkontribusi dalam membantu penanganan pandemi ini tanpa melalui kebijakan pemotongan gaji. Tapi, menurutnya tak semua pemain dalam situasi yang berkecukupan.

"Saya berada dalam posisi di mana saya bisa memberikan sesuatu. Tidak semua pemain sepak bola berada di posisi yang sama. Namun tiba-tiba seluruh pemain diminta potong gaji 30 persen. Mengapa para pesepakbola tiba-tiba jadi kambing hitam," kata Rooney seperti dikutip Sky Sports.

Presiden Asosiasi Pesepakbola Italia AIC, Damiano Tommasi, juga memprotes keputusan sepihak Serie A.

"Saya tidak bisa memahami logika bisnis di balik perilaku ini: menempatkan pemain sebagai protagonis utama, dalam situasi yang buruk. Rasanya gila bagi saya," kata Tommasi. Dikutip dari CNNIndonesia.com

Mantan pemain AS Roma itu juga berharap klub dan pemain melakukan negosiasi ulang terkait kontrak mereka. Sebab, pemain masih bekerja sampai Maret dan saat ini pun tetap menjalankan program dari tim pelatih.

Sebenarnya, para pemain Indonesia butuh dukungan dari sosok mantan pesepakbola kritis macam Bambang Pamungkas. Pasalnya, ia menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang sukses 'melawan' manajemen klub (Persija Jakarta) dalam kasus penunggakan gaji pada 2014.

Kala itu, PSSI harus turun tangan menengahi konflik Bambang dan Manajemen Persija yang dipimpin Ferry Paulus. Namun, setahun kemudian Bambang kembali ke Persija hingga pensiun pada 2019

Saat ini Bambang menjabat manajer Persija. Posisi cukup strategis untuk menentang kebijakan sepihak manajemen soal pemotongan gaji 75 persen.

Tapi, keberadaan Bambang di dalam manajemen klub ternyata tak bisa membantu pemain. Manajemen pimpinan Ferry Paulus ikut arus pemangkasan gaji 75 persen.

Para pemain mau tidak mau harus bersatu untuk menentang rencana pemotongan gaji yang seenak jidat. Sebab, tak semua pemain punya pendapatan besar terutama pemain Liga 2 yang masih banyak terjadi penunggakan gaji sejak musim lalu. (Edi)

Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa korupsi dan lain-lainnya/rilis atau ingin pasang Iklan dan berbagi foto?
Silakan SMS/WatsApp ke:
0852-6599-9456
Via E-mail:
red_siagaonlinepku@yahoo.com / redaksisiagaonline@gmail.com
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)




Loading...


 
Berita Lainnya :
  • Pemotongan Gaji Seenak Jidat di Liga 1
  •  
    Komentar Anda :

     
    GALERI FOTO
    Kapolda Kepri Resmi di Jabat Oleh Irjen Pol DRS Tabana Bangun Msi
     
    ADVERTORIAL
    Guna Mendengar Keluhan Masyarakat, Kapolres Dharmaraya Kembali Gelar Curhat Kamtibmas
     
    TERPOPULER
    1 Jokowi Tunjuk Listyo Sigit Sebagai Kapolri, Siap Uji Kelayakan di DPR
    2 Kebersihan Lingkungan Adalah Tanggung Jawab Bersama
    3 Perusahaan Hilangkan Hak Karyawan, Ratusan Buruh PT RGMS Gelar Mogok Kerja
    4 Diduga Perusahan Hilangkan Hak Karyawan, Buruh PT RGMS Gelar Aksi Mogok Kerja
    5 Terkait Penemuan Air Mineral Merk Crystalline Mengandung Kotoran dalam Kemasan, Konsumen Kecewa
    6 Bupati Bungkam?
    Mendagri Diminta Perintahkan Bupati Nias Barat Copot Oknum Kadis Terduga Mesum
    7 Para Pejabat Teras Jajaran Pusterad Diserahterimakan
    8 Kuasa Hukum Ust. Maheer At Thuwailibi Siap Ambil Tindakan Hukum
    9 Manfaat Penyuluhan Kesehatan Langsung Dapat Dirasakan Warga Desa Tujung
    10 PT. Langgam Harmoni Tolak Serikat, Puluhan Karyawan Lakukan Mogok Kerja
     
    Siaga Kepri | Siaga Sumut | Siaga Lampung | Siaga Jawa | Kuansing | DPRD Kuansing | DPRD Tanjung Pinang
    Galeri Foto | Advertorial | Opini | Indeks
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2016-2020 PT. Mafis Siaga Pers, All Rights Reserved