Siagaonline.com, Dharmasraya – Pagi itu, langit Dharmasraya tampak cerah, seakan menyambut semangat baru di halaman Kantor Bupati. Di tengah barisan rapi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengikuti apel gabungan, berdiri seorang pemimpin muda yang mulai dikenal karena ketegasan dan gaya komunikasinya yang lugas: Annisa Suci Ramadhani.
Enam minggu sejak dilantik menjadi Bupati Dharmasraya, Annisa tidak datang membawa basa-basi. Bersama Wakil Bupati Leli Arni, ia mulai menggulirkan perubahan—dimulai dari disiplin dan responsivitas para ASN.
“Terima kasih kepada ASN yang sudah menyesuaikan ritme kerja kami dalam satu setengah bulan ini,” katanya di atas mimbar. Ucapannya hangat, tapi sarat makna. Ia menyadari, mengubah budaya birokrasi bukan perkara sehari dua hari.
Namun suasana segera berubah serius. Dengan intonasi yang tak meninggi tapi cukup tegas untuk membungkam bisik-bisik di barisan belakang, Annisa menyampaikan hal yang membuat banyak kepala menunduk: kritik terbuka terhadap kinerja Dinas PUPR.
Ia mengaku kecewa dengan pejabat yang kerap tak hadir di rapat penting, bahkan tak merespons panggilan komunikasi. Bagi Annisa, ini bukan soal pribadi. Ini soal pelayanan publik. Soal kepercayaan masyarakat yang harus dijawab dengan kerja nyata.
“Saya dari awal sudah mengatakan, saya butuh tim yang solid. Kalau tidak siap bekerja, silakan mengundurkan diri,” ujarnya tanpa ragu. Sebuah kalimat yang menggema di halaman kantor bupati—dan mungkin juga di hati banyak ASN yang mendengarnya.
Bagi Annisa, menjadi ASN bukan sekadar status, melainkan panggilan pengabdian. Ia tak menutup mata terhadap tantangan besar yang sedang dihadapi—termasuk defisit anggaran hampir Rp100 miliar. Namun justru di situlah ia merasa perlunya kerja cepat, tepat, dan jujur.
Meski pernyataannya keras, ia tak menghilangkan sisi empatinya. “Maaf jika hari ini saya harus bicara sejujurnya. Tapi ini adalah suara masyarakat yang harus saya sampaikan,” katanya dengan nada yang sedikit melunak.
Tapi Annisa tak hanya datang membawa teguran. Ia juga membawa harapan. Janji akan pemenuhan hak ASN, termasuk TPP yang lebih baik, menjadi bagian dari visinya. “Saya bercita-cita menjadikan TPP PNS Dharmasraya yang tertinggi di Sumatera Barat. Tapi itu hanya bisa kita wujudkan jika kita bekerja keras bersama-sama,” ujarnya menutup pidato.
Dalam waktu singkat, Annisa telah menunjukkan bahwa kepemimpinannya bukan sekadar simbol generasi muda di pemerintahan. Ia datang membawa arah, keberanian, dan ketulusan untuk mewujudkan perubahan—meski harus dimulai dengan kejujuran yang kadang menyakitkan.
Dan pagi itu, di halaman kantor yang biasanya penuh rutinitas, lahirlah harapan baru. Harapan dari seorang pemimpin yang tidak hanya ingin didengar, tapi juga mendengar. Tidak hanya ingin dilayani, tapi juga melayani.(Tegu)
Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa korupsi dan lain-lainnya/rilis atau ingin pasang Iklan dan berbagi foto?
Silakan SMS/WatsApp ke:
0852-6599-9456
Via E-mail:
[email protected] / [email protected]
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda) |
Komentar Anda :