SiagaOnline.com,Rohil- Antrean kendaraan maupun jerigen para penyalur BBM kepada nelayan yang hendak mengisi bahan bakar minyak (BBM) Solar kembali terlihat di BUMD PD.SPR di kilometer 4 Bagansiapiapi.
Kondisi ini sangat dikeluhkan oleh para nelayan dan sopir angkutan umum dan angkutan barang disebabkan berkurangnya kuota biosolar untuk BUMD PD.SPR Bagansiapiapi.
Ijul seorang penyalur BBM kepada nelayan Bagan Hulu mengaku kewalahan untuk mendapatkan minyak solar sehingga menyebabkan nelayan tidak bisa melaut. Padahal mereka udah mengantongi rekomendasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan (Diskanlut) setempat.
Dijelaskannya, kondisi sulitnya untuk mendapatkan solar ini bahkan ada nelayan sepekan ini tidak bisa melaut.
"Kami sudah membuat rekom untuk orang kelaut (nelayan) sementara jerigen kami tidak berisi. Nelayan sudah tujuh hari tak melaut karena minyak tak dapat," kata Ijul saat ditemui di BUMD PD.SPR, Sabtu (26/03/2022) kemarin.
Ia berharap kepada pihak pengelola BUMD PD.SPR untuk memberikan kemudahan dan kelancaran kepada pihaknya untuk mendapatkan minyak solar untuk nelayan.
Sementara itu, Zulfakar Juned,SE salah satu direksi BUMD PD. SPR menjelaskan penyebab terjadinya antrean dikarenakan pihak Pertamina membatasi kuota biosolar untuk BUMD PD. SPR yang jumlahnya dari 32 ton menjadi 20 ton sementara konsumen yang harus dilayani sesuai rekomendasi hampir 400 rekomendasi.
" Itupun tidak setiap hari, terkadang ada tiga hari sekali, kalau kami layani setiap hari kemungkinan ketersediaan biosolar kita tidak mencukupi, kami juga melayani untuk umum juga. Namun demikian untuk kebutuhan nelayan itu diprioritaskan dengan ketersediaan biosolar yang ada," kata Zulfakar,Sabtu (26/03/2022)..
Sebagai BUMD penyalur SPBU milik pemerintah pihaknya berharap agar PT. Pertamina menambah kuota biosolar agar semua konsumen dapat dilayani.
"Daerah kita ini daerah pesisir, beda dengan SPBU yang ada didaerah daratan. Kita melayani nelayan, maka kami mengharapkan tambahan kuota BBM, "harapnya.
Diakui Zulfakar bahwa belakangan ini nelayan ada yang tidak melaut karena keterbatasan solar.
Menurutnya, jika pihak Pertamina bisa menyanggupi dan mengirim sebanyak 36 ton per harinya itu tidak akan terjadi kelangkaan seperti sekarang ini.
"Supaya tidak lagi terjadi jerigen menumpuk seperti sekarang ini. Kami jelaskan juga pengisian pakai Jerigen ini adalah untuk nelayan karena medianya pakai Jerigen tapi pelayanan umum juga tidak kami abaikan.
Pihaknya selaku manajemen SPBU mencari strategi yang baik khusus untuk nelayan supaya bisa sama-sama dapat BBM," sebutnya.
"Nelayan yang kita layani yang punya rekomendasi dari dinas kelautan dan perikanan sebagai payung hukum, kalau tak ada rekomendasi tidak bisa kita layani karna kita tidak mau juga menyalurkan BBM biosolar yang subsidi ini tersandung dengan hukum. Baru bisa kami layani itu nelayan yang punya rekomendasi jika tidak punya rekomendasi kami tidak berani untuk menyalurkan nya. Dan Rekomendasi ini lah kami jadikan sebagai bahan pertimbangan Pertamina nanti kami bawa ke Pertamina. Mudah-mudahan Pertamina mau menyanggupi permohonan kita untuk menambah kuota bolios biosalar, " tandas Zulfakar.(Agung)
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)
| Berita Terkini | Indeks |